'/> Sebelum Internet Datang - Episode 5 - Riki Yusaeri Sebelum Internet Datang - Episode 5 - Riki Yusaeri -->

Sebelum Internet Datang - Episode 5

 


Di bawah api unggun dan langit malam, kami belajar bahwa Pramuka bukan sekadar seragam, tetapi tentang kebersamaan, keberanian, dan kenangan yang tumbuh sebelum internet datang.

RIKI YUSAERI - Sebelum Internet Datang - Episode 5 (Berkemah)

Ada masa ketika anak-anak kampung belum mengenal dunia lewat layar. Belum ada notifikasi, belum ada grup WhatsApp, belum ada media sosial tempat orang berlomba terlihat bahagia.

Selain mengenal dunia lewat masjid, kami mengenal dunia lewat lapangan sekolah. Lewat tanah merah yang menempel di sepatu. Lewat peluit panjang guru olahraga dan lewat suara tepuk tangan saat yel-yel Pramuka diteriakkan bersama-sama.

Aku masih kelas 4 SD saat pertama kali mengenal dunia bernama Pramuka.
Waktu itu sekolah kami kedatangan mahasiswa PPL. Mereka datang membawa sesuatu yang berbeda. Bukan hanya program belajar tambahan atau penyuluhan seperti biasanya, tetapi juga semangat muda yang membuat sekolah kecil kami terasa hidup

Di antara mereka ada satu nama yang kelak begitu akrab dalam perjalanan hidupku: Purna Irawan.
Saat itu beliau masih mahasiswa. Belum menjadi pembina Pramuka seperti nanti ketika aku masuk SMP. Tetapi bahkan sejak pertama melihatnya memimpin kegiatan, aku tahu ada sesuatu yang berbeda. Cara berbicaranya tenang, namun membuat orang mau mendengarkan.

Mereka mengadakan Persami di sekolah, Perkemahan Sabtu Minggu.
Hari itu sekolah berubah seperti bumi perkemahan kecil. Halaman yang biasanya hanya dipakai upacara mendadak dipenuhi tenda, tongkat pramuka, tali-temali, dan suara anak-anak dari sekolah lain.

Ada murid dari MI Cilumayan. Ada juga dari SDN 5 Pasiripis dan SDN 6 Pasiripis.
Bagi anak kampung sepertiku, melihat banyak sekolah berkumpul saja sudah terasa seperti menghadiri festival besar.

Aku masih kecil. Masih canggung memakai seragam Pramuka lengkap.
Tapi coba lihat dulu penampilanku pagi itu.

Hasduk merah putih di leher, simpulnya sudah longgar sebelum upacara dimulai, melorot ke kiri. Jadinya tidak simetris, seperti selempang pramuka versi kusut. Baret cokelat? Jangan ditanya. Alih-alih menempel gagah miring ke kanan seperti tentara, ia lebih mirip peci hampir jatuh, selalu bergeser ke belakang. Sepanjang upacara, hampir setiap semenit tanganku naik untuk membenarkannya.

Belum lagi kaus kakiku, yang kiri sampai mata kaki, yang kanan hampir betis. Terlihat warna putihnya saja sudah syukur, soal panjang sama, itu urusan nanti.

Lalu celana, kebesaran sedikit. Sengaja dibeli begitu agar bisa dipakai lama. Dua tahun ke depan, mungkin. Jadi ujung celanaku sering terinjak sandal jepit saat jalan. Kaus kaki tak selalu sama tinggi. Sepatu kadang masih sepatu sekolah biasa yang dipaksa terlihat "lapangan."

Tapi anehnya saat bercermin sebelum berangkat, aku merasa sangat gagah. Seperti pasukan komando sungguhan. Tidak ada yang salah dengan seragam ini, pikirku. Harusnya memang begitu.

Anak SD naif. Belum tahu bahwa yang namanya rapi itu bukan hanya soal memakainya, tapi juga soal bagaimana ia melekat dengan benar.

Namun justru karena ketidaktahuan itulah, rasa bangga memakai atribut Pramuka itu begitu besar. Apalagi ketika hasduk mulai dipasang di leher. Rasanya seperti naik pangkat menjadi orang pemberani.

Di sekolahku, pemimpin regu atau pinru saat itu adalah Saeful Amri, kakak kelas 6.
Aku masih ingat caranya berdiri saat apel. Tegap. Suaranya lantang. Sekali memberi instruksi, semua langsung bergerak.
Baret miliknya selalu rapi. Tali peluit tergantung gagah di dada. Dan entah kenapa, bagi kami anak-anak kecil, itu terlihat keren sekali.

Dari dia, untuk pertama kalinya aku melihat bentuk kepemimpinan yang nyata.
Bukan soal paling galak. Bukan soal paling pintar. Tetapi tentang bagaimana membuat orang lain percaya dan mau berjalan bersama.

Tanpa sadar, banyak hal yang kupelajari dari dirinya. Mungkin, jauh bertahun-tahun setelahnya, sedikit dari cara memimpinnya ikut terbawa ketika aku menjadi ketua OSIS di sekolah, hingga memimpin himpunan saat kuliah. Kebetulan mengenalnya lebih lama karena saat kelas 7 SMP, dia ketua OSISnya.

Persami itu sederhana, tetapi terasa sangat besar bagi kami.
Dimulai dari upacara pembukaan. Kami berdiri rapi di lapangan sambil mendengarkan pembina memberi amanat. Angin sore meniup bendera merah putih perlahan. Anak-anak kecil mencoba terlihat disiplin walau beberapa masih sibuk membetulkan topi dan hasduk masing-masing. Ada yang simpul hasduknya lepas. Ada yang baretnya terbalik. Ada juga yang terlalu semangat sampai peluitnya dibawa tidur

Lalu kegiatan dimulai.
Ada permainan halang rintang yang membuat seragam penuh debu. Ada lomba yel-yel yang diteriakkan sampai suara habis. Ada nyanyi-nyanyi Pramuka yang entah kenapa terasa begitu semangat ketika dinyanyikan ramai-ramai.

Kami mulai belajar semaphore, morse, dan tali-temali. Meski sebenarnya aku lebih banyak memperhatikan kakak kelas 5 dan 6 karena belum terlalu mengerti. Namun justru di situlah serunya.

Ada juga kegiatan masak rimba. Di sinilah salah satu kejadian paling lucu sekaligus paling kasihan terjadi.
Saat makan siang, salah satu temanku tanpa sadar mengambil botol yang dikiranya air minum. Ternyata itu minyak tanah.

Begitu dia meneguknya, wajahnya langsung berubah aneh. Kami semua panik sekaligus menahan tawa. Kasihan, tentu saja. Takut juga kalau kenapa-kenapa.
Tetapi sebagai anak-anak SD, kejadian itu tetap menjadi cerita yang terus diingat bertahun-tahun setelahnya. Kami tidak berani tertawa keras-keras. Takut dosa.

Malam hari menjadi bagian paling magis.
Upacara api unggun dimulai.
Langit gelap Surade dihiasi cahaya api yang menari-nari. Udara dingin mulai turun perlahan. Kami duduk melingkar sambil menatap kobaran api yang membuat wajah setiap orang terlihat hangat.

Seragam Pramuka yang siang tadi penuh debu kini terlihat berbeda terkena cahaya api unggun. Ada rasa bangga yang sulit dijelaskan ketika duduk bersama teman-teman satu regu sambil memakai seragam yang sama. Walaupun sebenarnya sebagian dari kami sudah mulai kusut, baret entah ke mana, dan sepatu bercampur lumpur.

Satu per satu sekolah menampilkan kreasi seni. Ada yang bernyanyi. Ada yang drama lucu. Ada yang tampil penuh percaya diri walau suaranya fals ke mana-mana. Menertawakan ada, tapi bukan karena fals, melainkan karena lucu. Malam itu semua terasa akrab.

Aku masih ingat bagaimana rasanya tidur di dalam tenda untuk pertama kalinya. Beralas tikar tipis, berhimpitan dengan teman-teman, mendengar suara orang bercanda sampai larut malam. Kadang ada yang pura-pura cerita hantu hanya untuk menakut-nakuti. Kadang ada yang mendadak ingin pulang karena kangen rumah.
Dan anehnya, justru hal-hal kecil seperti itulah yang paling lama tinggal di ingatan.

Persami itu ditutup dengan upacara penutupan keesokan harinya.
Saat pulang, badan terasa lelah. Baju kotor. Kulit mulai gosong karena panas lapangan.
Tetapi hati terasa penuh.
Itulah pengalaman pertamaku menjadi "anak rimba."
Dan sejak saat itu, aku mulai jatuh cinta pada dunia organisasi.

Setahun setelahnya, sekitar Agustus tahun 2005 atau 2006, aku kembali ikut kegiatan Pramuka yang lebih besar: Jambore sekecamatan Surade dalam rangka HUT Pramuka.
Untuk anak desa sepertiku, itu terasa seperti dunia baru.

Sebuah hamparan sawah disulap menjadi lautan tenda. Dari SD sampai SMA berkumpul di sana. Ribuan suara bercampur menjadi satu. Peluit pembina bersahut-sahutan sejak pagi.
Di situlah aku mulai mengenal lebih banyak orang seusia.
Belajar berbaur. Belajar mandiri. Belajar bahwa dunia ternyata jauh lebih luas daripada kampung sendiri.

Kami memasak bersama. Mengikuti lomba semaphore, morse, tali-temali, dan seni. Kadang kalah sebelum tampil. Kadang salah gerakan. Kadang lupa sandi morse saat lomba dimulai.
Tetapi tidak ada yang benar-benar kecewa. Karena tujuan utama kami sebenarnya bukan piala. Melainkan pengalaman

Kami mandi di rumah warga sekitar karena belum ada fasilitas memadai. Berjalan ramai-ramai sambil membawa handuk, sabun dan shampo menjadi petualangan kecil yang menyenangkan.

Dan tentu saja, mulai mengenal perempuan dari sekolah lain.
Namanya sekarang sudah lupa, yang kuingat hanya perasaan gugup saat berpapasan. Sesederhana saling senyum saja sudah cukup membuat hati anak SD berisik sepanjang malam.

Begitulah masa-masa itu.
Polos. Sederhana. Tetapi hangat.
Kami memang tidak membawa pulang piala kemenangan. Namun kami membawa sesuatu yang jauh lebih penting.
Kenangan.

Dari tenda-tenda sederhana itulah aku belajar arti kebersamaan.
Dari api unggun itulah aku belajar keberanian tampil di depan orang banyak.
Dari barisan Pramuka itulah aku belajar disiplin dan kepemimpinan.
Dan kini, ketika semuanya telah berlalu sangat jauh, aku baru sadar,
kadang sekolah tidak hanya mengajarkan pelajaran di kelas.
Kadang ia mengajarkan kehidupan. Lewat tanah lapang, tali pramuka, dan malam dingin di bawah cahaya api unggun.


Bersambung.....

0 Response to "Sebelum Internet Datang - Episode 5"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel