'/> Puisi | 16 Bulan 23 Hari - Riki Yusaeri Puisi | 16 Bulan 23 Hari - Riki Yusaeri -->

Puisi | 16 Bulan 23 Hari

  

Kita kalah oleh jam, bukan oleh rasa.

16 Bulan 23 Hari

Kita bermula dari email,

huruf-huruf dingin seperti pagi tanpa kopi.

Tak ada rindu yang berani disebut,

hanya diam yang perlahan saling mengenal.


Aku di kota kembang

yang akrab dengan hujan dan rindu,

kau di kota yang keras dan terang,

di mana siang enggan beranjak pergi.


Awalnya segalanya berhati-hati,

sunyi ikut menjaga jarak.

Bahkan semesta hanya berani berbisik:

“Jangan terlalu berharap.”


Lalu kau berkata pelan,

“Ketemu, yuk.”

Dan jarak

kehilangan hitungannya.


Sejak itu kilometer berubah peran,

bukan lagi jurang,

melainkan alasan rindu bekerja lembur,

menyita malam tanpa perlu izin.


Telepon jadi ruang tamu,

video call jadi jendela,

tempat wajahmu singgah sebentar,

sebelum waktu memanggil pulang.


Kadang layar membeku tanpa aba-aba,

wajahmu menggantung di antara detik,

kita tertawa, menunggu dunia ramah,

lalu saling rindu dengan cara dewasa.


Sebulan sekali aku datang,

menabrak macet demi satu pelukan,

membawa rindu yang kepanjangan,

lalu pulang dengan hati yang lebih penuh.


Pusat perbelanjaan itu hafal langkah kita,

jajan sederhana, makan sambil debat receh,

bahagia tanpa perlu mewah,

karena bahagia sering lupa tata krama.


Jam delapan malam selalu kejam,

waktu mengeras tanpa negosiasi,

bus berubah menjadi penculik,

dan aku korban yang pasrah.


Kau melambaikan tangan,

kadang berlari kecil mengejar perpisahan,

seolah cinta bisa menyusul roda,

dan aku semakin jatuh cinta.


Kita bicara tentang pelabuhan,

tentang kapal yang lelah berlayar,

kau ragu lalu mengangguk pelan,

aku siap, namun tangan gemetar.


Sampai akhirnya kita sepakat,

kapal ini ingin pulang,

namun rumah belum sepenuhnya terang,

satu kursi tua masih menunggu di ruang keluarga.


Maka kau memilih menempuh samudra lain,

menjawab panggilan negeri seberang,

seragam putih menjadi arah,

dan dua tahun ditulis dengan tegas.


Aku tahu betul bagaimana kau bertumbuh,

mengetuk banyak pintu dengan harap,

diterima lalu kau lepaskan sendiri,

seperti hatimu yang ragu memilih masa depan.


Kau pintar,

kau ceria,

kadang meledak seperti cuaca tropis,

tiba-tiba hujan.


Anehnya aku makin sayang,

tanpa alasan yang perlu dibela,

kau mengajariku hidup yang tak selalu ramah,

bahwa cinta tak cukup hanya nekat.


Aku tak sanggup menunggu dua musim kalender,

waktu terasa berjalan tanpa menoleh,

lelah tumbuh lebih cepat dari harapan,

dan sunyi mulai belajar bicara.


Kau memilih berhenti,

bukan karena cinta,

kita kalah oleh jam,

bukan oleh rasa.


Kini aku belajar berdiri,

menata napas yang sempat runtuh,

memunguti sisa-sisa kita,

yang tercecer di sepanjang waktu.


Marah kecil, putus yang berulang,

curhat dini hari yang tak selesai,

tawa yang terlalu jujur,

untuk sekadar dilupakan.


Terima kasih,

atas bahagia yang singgah,

atas sedih yang menetap sejenak,

dan luka kecil yang mendewasakan.


Aku menangis,

namun juga tersenyum,

karena akhirnya kau berani,

memilih mimpimu sendiri.


Enam belas bulan dua puluh tiga hari,

bukan waktu yang singkat,

bukan pula kesalahan,

hanya perjalanan yang pernah sungguh.


Kisah ini selesai,

bukan karena kurang cinta,

melainkan karena hidup meminta kita,

kuat dengan caranya sendiri.


Dan kini aku kuat,

meski rindu kadang datang tanpa izin,

mengetuk pelan di ingatan,

seperti notifikasi lama yang lupa dihapus.

1 Response to "Puisi | 16 Bulan 23 Hari"

  1. Ada jarak yang lahir,
    membawa jeda sebagai takdir sementara.
    Bukan karena cinta kehilangan arah,
    melainkan karena tak sanggup
    menjadikan waktu sekadar kalender
    yang menua dalam penantian.

    Langkah menjauh kadang dipilih
    agar waktu tetap berdetik,
    agar rindu tak berubah
    menjadi beban yang diam-diam melelahkan.
    Ia disimpan sebagai arsip paling sunyi,
    diberi alamat doa,
    sebab menunggu terlalu lama
    perlahan mengikis makna.

    Jika rindu sempat menyebut satu nama,
    biarlah ia menjadi angin lintas negeri—
    datang tanpa janji,
    pergi tanpa menyisakan beban.
    Pergi bukan untuk menghapus,
    hanya memilih jarak
    agar perasaan tetap memiliki martabat,
    dan tak menjelma jeda tanpa ujung.

    Maka, baik-baiklah di sana,
    di tempat waktu berjalan tanpa harus menunggu.
    Semoga yang tertinggal
    tetap utuh,
    meski jarak memilih tinggal lebih lama.

    BalasHapus

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel