'/> Puisi | Percakapan Sunyi dengan Waktu - Riki Yusaeri Puisi | Percakapan Sunyi dengan Waktu - Riki Yusaeri -->

Puisi | Percakapan Sunyi dengan Waktu

 

Puisi | Percakapan Sunyi dengan Waktu
Asap menari pelan di ruang yang tak bernama, menyulam gelap dengan sisa pikiranku sendiri
Asap menari pelan di ruang yang tak bernama,
menyulam gelap dengan sisa pikiranku sendiri.
Setiap helanya seperti doa yang ragu,
terangkat lalu hilang,
menyentuh langit-langit malam.

Ada meja yang setia menampung resah,
secangkir kopi dingin,
dan layar yang menatapku lebih lama,
dari siapa pun.

Di kejauhan,
angin membawa kabar dari timur,
tentang azan yang nyaris padam di dadaku,
tentang janji yang kutunda,
dengan alasan lelah yang tak pernah selesai.

Waktu duduk di seberangku malam ini,
tak banyak bicara,
hanya menatap seperti cermin,
yang menunggu aku jujur pada diri sendiri.

Ia berbisik lirih,
bahwa diam bukan berarti damai,
dan bergerak bukan berarti hidup.

Maka aku mulai belajar,
menyusun pagi dari reruntuhan malam,
menanam niat kecil,
di tanah kesadaran yang kering,
menyiraminya dengan keyakinan
yang belum sempurna.

Dan mungkin,
bila aku cukup setia menjaga pagi,
aku akan bertemu dengan diriku yang lain,
yang tak lagi berlari dari waktu,
tapi berjalan berdampingan dengannya,
menuju cahaya yang sama,
tempat segala doa menemukan rumahnya.



1 Response to "Puisi | Percakapan Sunyi dengan Waktu"

  1. Dulu,
    angin kecil selalu singgah
    di jendela hariku
    membawa kabar sederhana
    yang membuat sunyi terasa hidup.

    Aku terbiasa membuka jendela,
    membiarkannya masuk
    tanpa pernah bertanya
    apakah suatu hari ia akan pergi.

    Namun kali ini
    aku sengaja menutup tangan yang biasa memanggilnya.
    Kubiarkan langit tetap tenang,
    kubiarkan waktu berjalan
    tanpa aku yang lebih dulu mengirim angin.

    Berkali-kali aku hampir kalah,
    karena sunyi punya cara
    untuk membuat hati ragu.

    Tapi aku tetap menunggu.

    Jika angin itu kembali,
    mungkin ia memang tahu jalan pulang.

    Namun jika jendela ini tetap hening,
    tanpa desir, tanpa kabar—

    mungkin sejak lama
    angin itu sudah memilih
    langit yang lain.

    Dan aku hanya perlu belajar
    bahwa tidak semua yang pernah singgah
    ditakdirkan
    untuk menetap.

    Maka malam ini
    aku menutup jendela dengan pelan,
    bukan karena marah,
    bukan pula karena kecewa.

    Hanya sebuah pamit
    yang tak perlu didengar siapa-siapa.

    Sebab esok,
    aku akan melangkah ke jalan yang baru
    mencari pagi yang lain,
    dan membiarkan angin datang
    tanpa perlu lagi kupanggil pulang. 🌙

    BalasHapus

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel