'/> Puisi | Jalan Pulang yang Dititipkan Langit - Riki Yusaeri Puisi | Jalan Pulang yang Dititipkan Langit - Riki Yusaeri -->

Puisi | Jalan Pulang yang Dititipkan Langit

Di rumah Tuhan itu, doa-doa menemukan bahasa yang tak pernah semu.

Jalan Pulang yang Dititipkan Langit

(Bagian I)


Barangkali setiap pertemuan

telah dituliskan jauh sebelum langkah pertama dilahirkan.

Kita hanya menjalani garis-garis halusnya,

sementara langit diam-diam menyempurnakan cerita.


Kala itu, engkau masih merampungkan halaman terakhir

dari pengembaraan panjang, mencari ilmu dan takdir.

Sedang aku telah lebih dahulu mengabdikan hari

menanamkan mimpi pada jiwa-jiwa muda yang kelak meniti hari.


Takdir memilih cara yang sederhana.

Ia mempertemukan dua nama

melalui cahaya yang menghubungkan jarak,

lalu membiarkan percakapan tumbuh perlahan.


Ada tenang yang menemani,

Ada tawa yang dibagi,

ada senja yang dinikmati,

ada langkah-langkah kecil yang saling mengiringi.


Hingga suatu hari,

kita bersimpuh di bawah kubah yang memeluk langit.

Di rumah Tuhan itu,

doa-doa menemukan bahasa yang tak pernah semu.


Aku tak pernah tahu,

apa yang kau bisikkan dalam sujudmu.

Namun semenjak hari itu,

hatiku belajar menyebut namamu dalam doaku.


Masjid itu tetap tinggal,

sebagai cahaya di antara kenangan yang kekal.

Tempat ketika harapan,

untuk pertama kalinya menemukan tujuan.


Lalu kubawa langkah ini menuju temu,

perlahan, tanpa memaksa waktu.

Namun ada musim yang belum berlalu,

dan hatimu masih belajar berdamai dengan waktu.


Ada sebuah kota

yang masih menyimpan mendung dalam ingatanmu.

Aku tak pernah meminta hujan segera reda,

sebab setiap luka mempunyai musim dalam kalbumu.


Maka aku memilih menunggu,

seperti laut yang setia menanti temu.

Tanpa memaksa langkahmu,

tanpa mengurangi doa yang kupanjatkan untukmu.


Kemudian tibalah hari,

engkau mengenakan mahkota perjuangan diri.

Aku tak hadir di sana,

kusangka ajakanmu hanya gurauan semata.


Kini kenangan itu

kadang datang seperti rindu.

Tak lagi menyakiti,

hanya mengajarkan arti sesal dalam diri.


Waktu terus berjalan,

namun belum selesai menulis kisah.

Pernah kau titipkan sebuah arah,

yang diam-diam kusimpan sebagai harapan.


Namun alamat itu,

tak pernah membawa langkah menuju temu.

Ia tetap tinggal sebagai penanda,

bahwa tak semua rindu harus berakhir dengan jumpa.


Dalam sunyi istikharah,

kau menunggu jawaban yang menenteramkan.

Sedang aku memilih diam,

menghormati setiap ikhtiar yang kauperjuangkan.


Maka kita menjadi dua helai daun,

yang diterbangkan angin ke arah berbeda.

Bukan untuk saling kehilangan,

melainkan belajar memahami waktu dan perjalanan.


Musim berganti,

hujan jatuh, kemarau pergi.

Dan hidup mengajari,

bahwa mengikhlaskan pun adalah cara mencintai.


Aku melanjutkan langkah,

engkau pun demikian.

Seolah dua garis yang menjauh perlahan,

setelah bertemu di satu persimpangan.


Hingga pada suatu malam,

langit menitipkan mimpi ke dalam tidurmu.

Di sana kau melihat,

aku telah melangkah bersama waktu yang baru.


Barangkali mimpi hanyalah bunga yang mekar di jiwa,

bagi banyak orang yang terlelap dalam sunyi.

Namun bagi kita,

ia menjadi surat kecil yang Tuhan titipkan di hati.


Engkau mencari jejakku,

sementara aku telah meninggalkan musim yang lalu.

Di antara jalan yang belum tentu,

aku belajar melangkah tanpa bayang-bayang itu.


Kini kami mengerti,

Tuhan tak pernah keliru menata waktu.

Yang dahulu tampak seperti pergi,

ternyata hanyalah jalan menuju temu.


Ketika kita kembali duduk berhadapan,

tak banyak kata yang diperlukan.

Hati yang telah ditempa penantian

selalu mengenali tempat pulangnya.


Hanya dua pertemuan,

namun terasa begitu panjang.

Melampaui waktu yang terbentang,

yang pernah memisahkan kita begitu lama.


Tak ada lagi keraguan,

yang berjalan di antara langkah.

Yang tersisa hanyalah keyakinan,

setenang langit selepas hujan.


Lalu tibalah musim.

ketika insan yang mengabdi pada ilmu,

Dipertemukan kembali,

di jeda yang Tuhan sediakan untuk temu.


Hari itu bukan akhir perjalanan,

melainkan awal dari sebuah penantian.

Kami memberanikan diri,

memulai ikhtiar dengan sepenuh hati.


Tak banyak yang kami ikat.

Hanya niat,

kepercayaan,

dan doa yang ingin terus dijaga.


Belum ada akad yang mengikat janji,

belum sepenuhnya genggaman ini dimiliki.

Namun telah ada restu yang menyertai,

serta harapan yang kami titipkan kepada Ilahi.


Semoga setiap langkah setelah hari ini,

tetap dipandu oleh cahaya-Mu yang suci.

Dan bila Engkau berkenan,

izinkan kami bertemu di waktu yang Kau tetapkan.


Pada halaman berikutnya.

Ketika janji tak lagi sekadar kata,

melainkan menjadi ikrar yang nyata,

di hadapan-Mu Yang Maha Kuasa.


#O2N3,N3O2,N5,NO4,O2N3,NO4

0 Response to "Puisi | Jalan Pulang yang Dititipkan Langit"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel